Minggu, 31 Mei 2015

MENGGUGAT DIRI MENJADI PRIBADI SAKTI (Catatan Inspiratif Kuliah Bersama Prof. Dr. H. Moh Ali Aziz, M.Ag tanggal 05 Mei 2015)



http://forum.kompas.com
Oleh: Syam
Assalamualikaum,” kata seorang bapak yang memasuki kelas. “Waalaikumsalam,” jawab kita di dalam kelas. Dosen berbaju batik hitam itu duduk dan meletakkan tasnya di atas meja. Beliaulah Bapak N. Faqih Syarif, spiritual motivator yang sangat menginspirasi. Penulis buku al-Quwwah ar-Ruhiyyah itu langsung mengambil laptop dalam tas. “Bisa LCD-nya ya mas?” tanyanya kepadaku. Mendengar pertanyaan itu, saya beranjak dari kursi untuk menekan tombol LCD yang berada di atas itu. “Insya Allah sudah bisa Ustadz,” Jawabku. Saya pun kembali ke tempat duduk semula.
Beliau duduk di kursi dosen, depan mahasiswa. Pada kuliah siang ini, beliau akan menjelaskan tentang “TOT-OUTBOUND TRAINING.” Menurutnya, materi ini penting, karena jika kita nanti lulus, tidak hanya pandai dalam beretorika atau public speaking, tetapi juga mampu mendirikan lembaga training. Trainer yang baik hati itu ingin memberikan pengetahuan dan pengalamannya untuk untuk menginspirasi banyak orang melalui pelatihan-pelatihan.
 
Pengetahuan yang sederhana harus diolah oleh para aktivis dakwah,” katanya sambil menjelaskan dengan bahasa isyarat melalui tangannya. Menurutnya, seorang da’i itu harus inovatif. Dakwah tak hanya dilakukan melalui mimbar, tetapi juga melalui pelatihan-pelatihan. “Jika anda memiliki ide yang kreatif, oh anda bisa menjalar kemana-mana. Ada banyak cerita yang anda akan ungkapkan” jelasnya. Menurutnya, anak yang kreatif menyampaikan dengan penjelasan yang luas serta ada banyak cerita yang ia sampaikan.
 
Sebelum menjelaskan “OUTBOND TRAINING,” Beliau memberikan semangat kepada mahasiswa tentang kehidupan dan bangkit dari keterpurukan. Dibacakanlah isi slide dalam laptop, sabagaimana yang juga bisa dilihat di dinding depan “Yang kekal di dunia ini adalah PERUBAHAN, dan yang pasti adalah KETIDAKPASTIAN.” Begitulah kata-kata mutiara pembangkit semangat mengungkapkan.
 
Menurutnya, kita hidup di dunia ini harus siap menghadapi perubahan dan ketidak-pastian. “Ada sepotong rokok bilang begini, “Jadi tua itu pasti, jadi dewasa itu pilihan,” ungkapnya dengan senyuman manis pada mahasiswa. Beliau menambahkan, bahwa mati itu pasti, tapi bagaimana persiapan untuk menghadap kepada Allah SWT. Menurutnya, banyak orang lupa bahwa yang pasti adalah ketidakpastian. Sehingga perubahan adalah sebuah keniscayaan. Setiap orang pasti berubah, baik ke arah positif maupun ke arah negatif. 

Beliau melanjutkan membaca kata-kata mutiara di laptopnya, dan mahasiswa mendengarkan sambil melihat slide yang tertera pada dinding di depannya, “Jika Anda setuju Anda, maka Anda memiliki persepsi yang sama dengan kami. Setiap Kita tak mampu membendung PERUBAHAN, karena PERUBAHAN bergerak sekencang perputaran waktu. Masalahnya kemana Anda berubah, bisakah Anda kendalikan KETIDAKPASTIAN dan bisakah Anda dengan perubahan yang terjadi.”
 
Ada kata kunci di situ,” katanya sambil mengambil dua buah Spidol di tas. Beliau pun berdiri dari duduknya dan menulis di papan sebelah kanan kata “PERUBAHAN dan KETIDAKPASTIAN” dengan spidol berwarna hitam. Menurutnya, jika orang tidak siap menghadapi dua hal itu, maka bersiap-siaplah mereka untuk menjadi orang yang stress. Beliau menambahkan bahwa orang yang lulus dari perguruan tinggi belum tentu menjadi orang yang sukses. “Tidak mesti anaknya kiai menjadi kiai,” tambahnya. 

Perubahan adalah sebuah keniscayaan,” katanya sambil menulis kata “Move on” di papan tulis sebelah kanan. Hingga semestar enam saja, masih ada mahasiswa yang belum memiliki visi hidup jelas. “Gak tau pak, gak jelas aku pak. iki kuliah dadi opo, gak jelas,” ungkapnya sambil menirukan mahasiswa yang masih belum memiliki tujuan hidup jelas. Mahasiswa pun menyambutnya dengan tertawa yang berbahak-bahak. Menurutnya, manusia harus siap  untuk menghadapi ketidakpastiaan.
 
 “Ketika PERUBAHAN dan KETIDAKPASTIAN  adalah keseharian, maka tidak ada pilihan bagi kita kecuali untuk membangun KEYAKINAN dan KESEMPURNAAN. KEYAKINAN adalah mengambil keputusan. KESEMPURNAAN adalah mewujudkan harapan,” begitulah kata-kata mutiara yang beliau baca di laptopnya.
Menurutnya, ada dua kata kunci lagi. Beliau beranjak dari tempat duduknya dan menulis di papan kata, “KEYAKINAN dan KESEMPURNAAN” dengan Spidol berwarna Biru. Beliau pun menambahkan bahwa, yakin itu memiliki nilai satu serta tidak yakin mendapat nilai nol. Berapa pun tindakan yang kita lakukan, jika tidak yakin, tinggal dikalikan nol saja, maka hasilnya adalah nol. “Tetapi jika Anda memiliki keyakinan, tinggal dikalikan satu. 3 kali, 7 kali, 8 kali, dan seterusnya,” jelasnya yang membuat mahasiswa tercengang.
Move on, mesti ya apa ndak,” tanyanya kepada mahasiswa. “Ya,” jawab mahasiswa dengan serentak. Menurutnya, tinggal kita berani apa tidak kepada Move on tersebut. Beliau pun menulis kata, “VISION, ACTION, PASSION, COLLABORATION” di papan sebelah kanan. Untuk mengaplikasikan itu semua butuh keyakinan. Menurutnya,  jika kita tidak memiliki keyakinan untuk meraih cita-cita, tidak akan ada semangat. “Kuliah klawas, klewes. Mau ngangkat sepatu aja tidak semangat,” ungkapnya sambil menirukan mahasiswa yang tidak semangat kuliah. Mahasiswa pun ketawa. Menurutnya, berapa pun tindakan yang kita lakukan, kalau tidak yakin, tidak akan mendapatkan hasil.
Anda ngomong, tetapi tidak punya Vission. Ndak punya visi akhirat. Maka action-nya tidak jelas,” katanya sambil menunjuk dengan tangan kiri pada kata “VISSION” di papan sebelah kanan. Beliau memberikan perumpamaan seperti orang jika tidak mempunyai visi, dia naik bersama temannya ke lantai dua puluh, ternyata salah lantai. “Apa yang terjadi sia-sia pa ndak?,” tanyanya kepada mahaiswa.  Orang yang tidak memiliki PASSION, maka tindakannya ngawur. Kelihatannya super sibuk, tetapi tidak ada manfaatnya. Beliau menyarakan kepada kita untuk intropeksi diri, apakah kita pernah melakukan tindakan yang kelihatannya super sibuk, tapi tidak produkif.
Anda semester enam ini, seharusnya sudah bisa membangun keyakinan dan membangun kesempurnaan,” katanya kepada mahasiswa. Menurutnya, ujian bagi mahasiswa yang akan menjelang wisuda ini, semakin loyo dan tidak bersemangat. “Semakin  mbulet ae,” sambil menggirukan Spidol dari atas ke bawah yang dipegang oleh tangan kanan. Jika hal itu yang terjadi, maka ketika semester tujuh dan delapan, kita akan semakin menunda-nunda waktu untuk meraih kesuksesan.
Khusus bagi yang cewek, kalau sudah semester tujuh, kakau ada yang ngelamar terima saja,” katanya, yang disambut ketawa oleh mahasiswi. Beliau menyarankan untuk tidak menunggu S1 atau S2. Hal itu itu berakibat bagi yang mau melamar akan tidak enak sendiri dan takut. Sebab menurutnya, pria akan takut melamar wanita yang sudah lebih tinggi pendidikan atau karirnya. Sebelum tinggi, mahasiswi beliau sarankan untuk tidak menunggu pendidikan atau karir tinggi untuk menerima lamaran atau nikah.

 “Syukur-syukur yang memberimu biaya kuliah, S1, S2, S3, ya bojomu,” katanya yang membuat mahasiswa mengatakan “amin” dan ketawa secara bersamaan. Menurutnya, hal itu beda dengan laki-laki, yang seharusnya semester enam sudah bisa bekerja. Sebab mereka memiliki tanggung jawab yang besar.

Begitulah kuliah Pak Faqih yang sangat inspiratif bagi kita. Kuliah yang santai tapi pasti. Ada saatnya dimana kita harus serius, dan dimana pula kita harus santai dan bergurau agar suasana perkuliahan tidak meneganggkan. Tak hanya duduk, beliau pun berdiri dalam menyampaikan materi kepada mahasiswa. Penjelasannya enak yang selalu diiringi dengan bahasa isyarat tangan, sehingga membuat mahasiswa tertegun dan senang dengan kuliahnya.
Jazakallah. Semoga Barokah. Amin Ya Robb. 

Selasa, 28 April 2015

MEMBAHAGIAKAN ORANG DENGAN BERJIWA “TERIMA KASIH” (Catatan Inspiratif Kuliah Bersama Prof. Dr. H. Moh Ali Aziz, M.Ag tanggal 28 April 2015)



Oleh: Syam







"Masa Karena Laptop Kamu Tidak Bisa Berkarya"
(Prof. Dr. H. Moh Ali Aziz, M.Ag)

 Berjalan menyusuri kampus, tak berpikir sedang becek atau tidak. Langkah demi langkah. “Assalamualaikum,” kataku pada kelas retorika. “Waalaikumsalam,” jawab semua orang pada ruangan itu. Saya pun langsung memasuki kelas dan bersalaman dengan Prof. Ali Aziz, Dosen dan Inspirator Besar dalam hidupku. Beliau pun  meneruskan penjelasannya.
Saya langsung duduk pada barisan paling depan di sebelah kiri Baiti. Saya pun bingung. Saya lihat ke kanan-kiri-belakang, teman-teman pun sudah menulis beberapa bait catatan penting di atas kertas yang mereka miliki. “Ya Allah beginilah, kalau datang telat, beginilah ketinggalan mendapatkan ilmu,” celetuk hatiku. 




Tiba-tiba dosen yang bercelanan hitam itu menyampaikan bahwa ada buku yang menarik tentang dahsyatnya terima kasih. Beliau pun berdiri dari duduknya dan menulis suatu judul buku, “John Kralik, 365 Thank You, The Year The Simple Act of Daily Gratitude Changed My Life” di papan tulis putih bagian kanan dengan Spidol Broadmaker yang berwarna hitam. Judul buku tersebut dibacanya dengan Pronounciation English yang spektakuler. Beliau pun menyentuh dahinya secara perlahan dan berjalan sambil menunjukkan bukunya dengan membuka lembaran demi lembaran. “Setahun ada berapa?,” tanyanya. “365 hari,” jawab salah seorang temanku. berarti, menurutnya, setiap hari selalu menulis ucapan terima kasih. 





Beliau menerjemahkan judul buku Bahasa Inggris yang tertulis di papan putih itu sambil menunjuk kalimat per kalimat dengan Spidol Broadmaker yang dipegang oleh tangan kanannya. Beliau pun berjalan langkah demi langkah sambil memegang buku dengan tangan kirinya. Dijelaskan bahwa penulis buku itu sukses disebabkan setap hari senantiasa menulis “terima kasih.” Didekatilah Fajriyah, temanku yang sangat luar biasa, serta disuruhlah ia untuk membaca judul buku Bahasa Inggris itu. “Apa judulnya ini, kamu baca!!!,” sarannya kepada Fajriyah. Ia pun membacanya dengan suara serak-serak basah. Ditegurlah ia untuk melantunkan suaranya dengan keras seperti petir menyapa bumi. Tak hanya itu, ia pun dibimbing dengan lafal Bahasa Inggris yang luar biasa. Aku bingung, itu suara aslinya atau hanya takut karena di depannya ada Prof Ali.  






Grek,” bunyi desiran pintu. Prof Ali berhenti menjelaskan isi bukunya itu dan melihat secara refleks ke pintu tersebut. Ternyata ada Hakim, Handika, Faizin Hisyam dan Irfan yang datang melewati batas waktu yang telah kita sepakati bersama. “Kenapa terlambat?” tanyanya kepada mereka. Mereka pun masuk dengan bersalaman secara bergiliran kepada dosen yang murah senyum itu. “baca tasbih dalam rukuk dulu 150 kali, dan baca tasbih dalam sujud 300 kali,” perintahnya kepada lima mahasiswa itu. Faizin pun langsung menuju ke arah sebelah utara di pojok depan dekat colokan listrik. Di sebelah selatannya ada Hisyam dan Irfan. Di depan mereka bertiga ada Hakim yang memimpin rukuk dan sujud. Walau sebenarnya itu bukan shalat benaran. Tak ketinggalan juga Handika yang berada di sebelah utara Hakim, tepat di balakangnya Faizin, Hisyam dan Irfan. Sekitar 10 menit kemudian, mereka selesai dan langsung mencari tempat duduk.
Dijelaskan bahwa John Kralik menulis surat kepada dokter yang merawatnya sekian tahun yang lalu. Dalam suratnya ia menyatakan, “Andaikan tidak Engkau tangani penyakit saya, maka saya sudah tidak bisa menulis surat ini. Terima kasih.” “Kira-kira dokternya senang gak?,” tanya Prof Ali kepada mahasiswa.” “Senang,” jawab teman-teman dengan sontak. Dokternya itu membalas dengan surat yang jauh lebih bagus dari sebelumnya itu. Ia pun menulis dalam suratnya, “Ini adalah pasien pertama kali sepanjang karir saya yang memberikan apresiasi seperti ini.” “Dokternya tadi kira-kira senang gak? Dapet ucapan terima kasih tadi?,” tanyanya kepada Zein, salah seorang teman baikku. Beliau pun menjelaskan sambil mundur ke belakang menuju meja dan kursi dosen. Menurutnya, jika dokternya itu senang, berarti jika kita nulis sebenarnya untuk menyenangkan orang lain.
Maju sedikit demi sedikit sambil meletakkan kedua ibu jarinya pada saku celana hitam yang dipakainya. Berhenti sejenak sambil merenung. “Saya berprinsip bahwa senyum manusia adalah senyum Tuhan,” katanya sambil menatap seluruh mahasiswa. Diputarlah badannya ke arah kanan dan mendekati Nitra, “Kamu sakit apa?.” “Sakit lambung Prof,” jawabnya sambil menatap dengan suara yang gemetar. Ditanya juga apa Nitra sudah ke dokter, ia pun menjawab bahwa telah mengunjungin untuk diperiksa. Senyum demi senyuman, menurutnya, penyakit lambung tidak bisa disembuhkan seumur hidup. “Hanya saja bisa dicegah,” jelasnya sambil melambaikan tangannya seakan-akan seperti memotong sesuatu.
Melangkahkan kaki dengan pelan-pelan ke kanan, sambil bercerita bahwa beberapa jam sebelumnya beliau periksa gigi di salah satu rumah sakit di Surabaya. ketika gigi dicabut dan darahnya keluar oleh dokter katholik perempuan. Ia pun bilang, “Bapak stress.” “Kok tau bu,” jawab Prof Ali. “darah kalau orang stress rata-rata seperti ini, saya itu nangani pasien sudah berpuluh-puluh tahun,” kata dokter tadi padanya. Prof Ali pun berjalan ke belakang dengan pandangannya yang masih tertuju kepada mahasiswa.
Pada saat itu beliau duduk dengan menghadapkan wajahnya agak miring ke atas. Dikatakan kepada dokternya tadi, “Sebentar dok saya mau menenangkan pikiran.” Berbisiklah di hatinya bahwa beliau adalah trainer yang sering mengajari orang tawakkal, sedangkan beliau sendiri belum bisa melakukannya. Membolak-balikkan tubuhnya dan menghadap ke kiri serta dikatakan bahwa sejak kecil beliau memang takut suntik apalagi ketika dicabut giginya.
 Ya Allah, gak papa dicabut. Asalkan ketika saya memenjamkan mata. Engkau datangkan rasulmu untuk memandang wajahku,” tirunya sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang bagian belakang. Selesai membaca doa itu giginya pun dicabut. “Gak papa dicabut, saya pasrah kepada-Mu,” tambah doanya. Anehnya, ketika darahnya keluar lagi. Sang dokter pun berkata bahwa darahnya ini bukan darahnya orang stress. Beliau pun menyimpulkan bahwa sedikit saja kesedihan itu dapat mempengaruhi darah kita.
Tidak ada kesedihan yang tidak berpengaruh pada kehidupan,” jelasnya sambil berjalan ke depan dengan tetap meletakkan kedua tangannya di pinggang bagian belakang. Dipikirkan juga bahwa tidak bisa dibayangkan bagaimana bentuk darahnya orang yang sedihnya bertahun-tahun. Yaitu orang yang memiliki rasa benci kepada orang bertahun-tahun.
Ulfian, dokternya tadi senang?,” tanyanya kepada ulfian. “Senang,” jawab ulfian dengan suara yang tidak terlalu jelas. Diingatkan kembali kepada mahasiswa bahwa, tadi beliau menulis “Senyum manusia adalah senyum Tuhan.” Kembali ditanya kepada mahasiswa tentang siapa yang akan tersenyum pertama kali ketika ada orang yang menyenangkan manusia. “Allah,” sontak manusia secara berbarengan.
Menurutnya, mengapa Tuhan mesti tersenyum juga. Sebab ada orang yang menghargai dan mengapresiasi orang. Allah senang kepada orang yang mengucapkan terima kasih kepada si dokter tadi, dan dokternya senang. Allah pun mengatakan, “Ini ada orang yang menyenangkan orang, saatnya aku harus menyenangkan dia.” Prof Ali pun kembali melanjutkan, bahwa Allah akan menyuruh kepada para malaikat untuk membukakan pintu-pintu rezeki yang masih tertutup, yang disediakan kepada orang yang telah membahagiakan orang lain.
Beliau menjelaskan bahwa surat itu salah satu yang ditulis dari 365 surat sebanyak hari dalam setahun. Beliau pun berjalan mendekati papan putih dan menulis kalimat “1. Dokter ” dengan tetap memegang buku melalui tangan kirinya. Maju langkah demi langkah sambil memasukkan Spidol Broadmaker ke saku, untuk menggaruk lengan kiri bagian atas yang sedang gatal.
Dilanjutkanlah cerita dalam buku tersebut. Penulis buku itu juga memberikan ucapan terima kasih kepada teman lomba larinya. Sebelum melanjutkan apa isi ucapan terima kasih sang penulis buku itu kepada teman larinya, beliau mendekati Diana, dan bertanya, “teman lomba lari dian?.” “Jalan sehat Prof,” jawab Diana sambil senyum dengan menghadapkan wajahnya ke sebelah kiri. “Kenapa kamu kok gak lari,” Diana ditanya. “Kegemukan,” jawabnya sambil menutupi wajah dengan tangannya. Ketika semua mahasiswa gelak tawa mendengar jawabannya itu, ia masih meneruskan tawanya sendiri.
Beliau pun meneruskan berceritanya. Ketika lomba lari temannya itu menunjukkan gubernur kepadanya. Temannya itu mengajakak John Kralik untuk mendekati sang gubernur tadi. John menulis surat kepada temannya itu, “Terima kasih kamu itu mau lari sama saya. Terima kasih andaikan saya tidak berjumpa dengan gubernur. Itu mungkin selamanya saya tidak tau kalau dia itu gubernur. Terima kasih luar biasa.” Prof Ali pun menundukkan kepala dan mengangakatnya serta mengatakan bahwa sesederhannya itu John menyatakan rasa terima kasihnya. Dengan bergegas beliau menuju ke papan putih dan melingkari kata “Gratitude” dengan Spidol Broadmaker hitam. Yang berarti ungkapan terima kasih.
“”Tok tok,” suara ketukan pintu. Prof Ali pun tertuju ke pintu kelas yang berada di  di pojok bagian timur kelas. Ternyata ada temanku, Rico, yang datang terlambat. Sebelum duduk, disuruhlah ia untuk membaca tasbih dalam rukuk 150 kali dan tasbih 300 dalam sujud. Ia menuju ke arah utara dekat tembok, tepat di samping kanannya meja dan kursi dosen, untuk melakukan rukuk dan sujud.
Menurut Prof Ali, Allah memiliki Sifat “Syakur,” kemudian ditulisnya dengan huruf Arab tanpa syakal pada Papan Putih dengan tinta biru. Dijelaskan juga bahwa makna kata “Syakur” adalah A Most Apreciate, Allah Paling Menghargai.
Prof Ali pun bertanya kepad Trisno tentang berapa umurnya. Trisno menjawab bahwa umurnya adalah 15 tahun, lalu menjadi 17 thaun, terakhir umurnya adalah 20 tahun. “Orang lupa umurnya sendiri,” kata Prof Ali. Teman-teman pun tertawa berbahak-bahak. Ditanya juga tentang berapa masa kecilnya, ia pun menjawab 5 tahun. Berarti ia bisa menulis selama 15 tahun. “Mestinya kamu harus menulis 365 x 15,” katanya sambil menulis di papan putih. Ditanya kepada mahasiswa tentang berapa hasil dari perkalian tersebut.
Beliau pun menunjuk Samroh untuk menghitung berapa hasilnya tersebut. Teman sekelasku itu pun bingung dan mencari handphone yang masih berada di dalam tasnya. Ia menghitung dan memberitahu kepada beliau tentang hasilnya yaitu 5275 kali. “Saya yakin tris, kalau kamu sudah betul-betul menulis terima kasih kepada 5275 orang, hidupmu lebih sukses dari pada hari ini,” ungkapnya sambil berjalan ke arah di mana kita duduk. Berarti kalian tidak membuat senyum 5275 orang, cukuplah untuk membuka seluruh pintu langit. Ditanya kepad Tris, siapa saja yang telah ia beri ungkapan rasa terima kasih secara khusus. “Surat atau email yang khusus untuk mengucapkan terima kasih,” katanya. Ia pun menjawab adalah kedua orang tuanya. Jadi ia telah menus 2 dari jumlah 5275 ungkapan terima kasih yang masih tersisa itu.
Ia (John) telah menulis Three hundred and sixty five Thank Yous and then Chose my life, merubah hidup saya,” katanya dengan memasukkan jari kanan ke dalam sakunya dan merenggangkan tangan kanannya sebagai isyarat memberi semangat kepada mahasiswa. Menurutnya, pada era sekarang ini tidak perlu repot untuk menyampaikan ungkapan terima kasih. SMS saja sudah cukup untuk mengungkapkanya kepada orang lain yang telah berjasa kepada diri kita. Hanya saja perlu disusun kata-kata yang bagus.
Inilah bagian dari hidup saya,” ungkapnya dengan wajah senyum. Beliau ke Iran tiga tahun, karena jasa orang yang disebabkan beliau sering mengucapkan terima kasih. “Selamat pagi pak, Saya senang sekali bisa bertemu bapak. Bapak orang hebat,” katanya kepada orang tersebut. Tahun depannya lagi beliau diundang kembali. “Tanpa Bapak saya tidak mungkin menginjakkan kaki ke Iran. Tanpa jasa bapak, saya tidak mungkin ke kota suci Qum, Isfahan, Basrah, terima kasih Pak,” tulis Prof Ali untuk kedua kalinya kepad orang itu. Akhirnya, beliau diundang untuk ketiga kalinya.
Beliau pun juga ke Taiwan berkat jasa bu Sri Setiawati. Setelah kembali ke tanah Air, beliau menulis surat, “Saya sudah lama ingin ke Taiwan. Andaikan tanpa undangan ibu saya tidak mungkin saya kesana. Atau kesana tanpa Istri. Sebab satu-satunya yang mengundang saya dengan istri adalah ibu. Terima kasih. Saya doakan. Salam untuk suami. Dan salam sukses untuk ananda semuanya.” Beliau juga menulis satu persatu nama-nama anak-anaknya. Akhirnya mengundang lagi hingga tiga kali. Beberapa hari sebelumnya, ia datang ke Surabaya tepatnya di Hotel Empire. Beliau di telpon oleh Ibu yang telah berjasa mengundangnya ke negara Taiwan itu, dan beliau pun mendatanginya di Hotel yang berada di daerah Blauran itu. Setelah ketemu, ia mengatakan kepada Prof. Ali, “Saya senang sekali yang kemaren. Pokoknya kalau Idul Adha harus bapak. Kalau ndak bapak. Lebih baik tidak shala Idul Adha,” ungkap Ibu Sri kepadanya. “Sekali lagi Thank You changes your life,” katanya dengan mengangkat tangan kirinya sebagai isyarat mempertegas ucapannya itu.
Beberapa menit kemudian, Beliau bertanya kepada Azka, salah seorang teman baikku, kepada siapa saja ia telah menulis ucapan terima kasih. Ia menjawab bahwa dirinya telah menyampaikankannya kepada empat orang, termasuk kedua orang tuanya. Prof Ali pun beranjak ke papan tulis dan mengatakan, “berarti kamu sudah minus 4.” Beliau yakin kepada Azka, jika ia telah mengucapkan terima kasih sebanyak 5275, ia tidak akan kuliah di dalam negeri. Guru Besar Ilmu Dakwah itu menambahkan bahwa, jika hati orang sudah digerakkan Allah, ia bisa melakukan apa saja. “Termasuk mengundang kamu dengan gaji termahal sekalipun,” katanya.
Coba kim Hakim, kamu tulis, lain syakartu la azidannakum, walainkafartum inna ‘adzabi lasyadid,” sarannya kepada Hakim. Ia pun maju untuk menulisnya di Papan putih. Prof Ali pun memperingatkannya untuk segera menulis, mengapa masih mencari ayat di handphone-nya. Ia pun menjawab agar tidak salah dalam menulisnya. Ia pun mengambil penghapus untuk menghapus catatan-catatan Prof Ali yang berada di sebalah kanan. Padahal di sebelah kirinya masih kosong. Beliau pun menegurnya untuk tidak menghapus. Sebagian teman-teman pun menyarakannya untuk menulis di tembok agar leluasa menulis dan tidak menghapus tulisan-tulisan yang masih penting untuk dibahas. Sekitar 7 menit 31 detik, ia mulai nulis ayat tersebut walau hanya dua huruf, yaitu laf dan alif saja. Agar tidak lama, beliau pun menyuruhnya untuk berhenti menulis.


 
 “Jadi la in syakartu la azidannakum, jadi kalau kamu pandai berterima kasih, maka Allah akan memberi balasan besar kepadamu,” jelasnya kepada mahasiswa. Beliau yakin bahwa belum pernah ada orang yang menafsiri la in syakartu la azidannakum seperti ini. Tidak ada orang yang menafsiri ayat ini sedetail ini. Beliau pun menuju ke papan putih bagian kiri dan menulis ayat la in syakartu la azidannakum dengan huruf arab tanpa syakal. Menurutnya ayat itu setara dengan makna “gratitude adalah changes my life.” Allah akan berkata, “If you always say thank you, I will change your lifes.
Ketika ada salah seorang temanku yang menunjukkan kelelahan tangannya, Prof Ali pun menyuruh kita untuk istirahat sejenak. Selain itu juga ada Azka yang mencetuk-cetukkan tangannya yang diawali dari jari telunjuk, jari tengah, jari manis, jari kelingking dan yang terakhir ibu jari.
Beliau pun berjalan setapak demi setapak dan bertanya kepada kita, doa apa di dalam shalat yang mencerminkan kita untuk menjadi pribadi berterima kasih. Melihat teman-teman termenung, saya pun menjawab alhamdulillahi rabbil ‘alamin, pada surat al-Fatihah yang selalu kita baca setelah doa iftitah pada takbiratul ihram. Beliau pun membenarkan atas jawaban  saya itu. “Alhamdulillah diletakkan di awal. Itu artinya kita supaya menjadi pribadi yang baik,” ungkapnya sambil menunjuk melalu tangan kanannya dengan Spidol Broadmaker sebagai isyarat untuk mempertegas apa yang disampaikan. Menurutnya, istri akan bahagia jika memiliki suami yang berperilaku hamdalah.
Salah satu moto kebanyakan orang Indonesia adalah pelit penghargaan,” jelasnya sambil memegang wajah bagian kirinya dengan tangan kiri serta memasukkan ibu jari pada tangan kanan ke dalam saku celanannya.   Beliau pun menceritakan bahwa dulu hidup di lingkungan santri, yang mengajar di SMA Kristen kupang. Lalu mengajar di SMA PGRI yang terkenal dengan kenal]kalan siswa-siswinya. Sudah menjadi kebiasan jika ada anak wanita yang ditemani oleh siswa pria banyak dan hal-hal amoral lainnya. Tidak ada guru yang mampu bertahan mungkin hanya setahun. Sedangkan Prof Ali mampu bertahan hingga 7 tahun lamanya. Hal itu lah yang menjadikan beliau menjadi guru Bahasa Inggris yang aturannya lulusan IAIN (UIN SA sekarang) tidak boleh mengajar.
Beliau pun curhat kepada mahasiswa, ketika ada pemeriksaan dari Diknas terkait sumber daya guru yang ngajar di SMA PGRI. Beliau selalu ditanya dan ditegur mengenai lulusan IAIN yang mengajar Bahasa Inggris. Dijawablah kepada diknas itu, “Karena yang lulusan IKIP jurusan Bahasa Inggris rata-rata 3 bulan tidak kuat,” ungkapnya.
Beliau pun ditanya juga mengapa mampu bertahan di sekolah yang muridnya nakal itu?. “Kalau dari IKIP kan jurusan Bahasa Inggris pak, jadi sudah pinter pak, anak-anak gak kuat pak. Kalau dari IAIN kan bahasa Inggrisnya seperti ini pak. jadi cocok dengan anak-anak,” jelasnya sambil membayangkan ketika memberikan jawaban pada bapak dari diknas yang bertanya kepadanya itu.
Orang semakin santri, semakin tidak apresiatif, semakin tidak menghargai orang serta semakin tidak berterima kasih,” katanya sambil berjalan dengan pelan-pelan diiringi dengan senyum manis. Beliau merasa ungkapannya itu bisa jadi salah serta berharap semoga saja kebiasaan buruk tidak menghargai orang itu berubah. 
Tak lama kemudian, di samping mengajar di SMA Kristen, beliau juga menjadi dosen di IAIN Sunan Ampel (UINSA sekarang) yang ditugasi mengikuti pembelajaran Bahasa Ingrris selama tiga bulan di Jakarta.  Di SMA Kristen ada upacara pemberangkatan beliau untuk ke Jakarta itu. Sedangkan di IAIN, tidak ada satu pun yang bertanya tentang ke Jakarta tersebut. Menurutnya sangat jelas, di Lingkungan santri ini tak memberi apresiasi sedikit pun, sedangkan di SMA Kristen itu malah memberinya penghormatan pemberangkatan. Luar biasa. “Kamu adalah anak-anak saya, harus merubah kesimpulan ini,” sarannya sambil kembali ke kursi dosen dengan diiringi senyum manis.
 Disebabkan telah menjadi Ketua Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, beliau pun memundurkan diri dari SMA PGRI. “Untuk melepas saya. Tau gak? Saya dibelikan cincin. Dia tidak ngerti kalau cincin itu haram.” Jelasnya sambil memegang jari manis pada tangan kirinya.  Tak hanya itu, diajaklah ke Tunjungan Plaza lantai 10. Mereka merasa bahwa beliau sudah ikut membesarkan sekolahnya. Merekah itulah selalu memapresiasi jasa-jasa orang lain. Subhanallah. Jadi menurutnya, Alhamdulillah itu adalah pesan Allah kepada manusia untuk menjadi pribadi yang pandai berterima kasih.
Kuliah pun diakhiri dengan berfoto satu persatu dengan beliau. Subhanallah. Allahu Akbar. Semoga Allah SWT senantiasa menolong Prof Ali dalam segala hal. Amin Ya Rob.