Senin, 20 April 2015

MEMAHAMI DIRI; TEROBOSAN SPEKTAKULER MENUJU INSAN BERDIKARI


 

Oleh: Syam
Assalamualikaum,” kata seorang bapak yang memasuki kelas. “Waalaikumsalam,” jawab kita di dalam kelas. Dosen berompi hitam itu masuk dan meletakkan tasnya di atas meja.  Beliaulah N. Faqih Syarif, spiritual motivator yang sangat menginspirasi. Penulis buku al-Quwwah ar-Ruhiyyah itu langsung memasangkan kabel LCD ke Laptop yang dibawanya. “Ustadz, LCD-nya itu tidak bisa.” Kataku dengan sedikit malu. “Oh gitu,” jawabnya dengan senyuman manis.
Saya pun minta izin, untuk meminjam LCD di akademik. Sebelum melangkah keluar ruangan. Saya teringat bahwa saya tidak membawa KTM. Saya pun minta pinjam ke teman-teman. Sebagian tidak ada yang membawa, tiba-tiba ada perempuan yang memberiku pinjam KTM. Dialah Mahabbah, teman perempuan sekelasku yang punya minat dan bakat Qira’atul Qur’an. Lalu, saya keluar kelas, menyusuri lantai, turun anak tangga, langkah demi langkah serta tibalah di ruang akademik, tempat peminjaman LCD.
Assalamualaikum,” kataku pada ruangan yang berisi para karyawan fakultas itu. “Waalaikumsalam, ada apa mas?” sontak mereka. “Saya mau pinjam LCD bu, soalnya LCD yang ada di ruangan D1.211 itu rusak,” kataku kepadanya. “Gak ada LCD sudah mas, ada yang pinjem semua,” jawabnya dengan wajah memerah. “Oh gitu bu ya, terima Kasih ya. Assalamualaikum,” kataku langsung keluar dan menaiki tangga. Saya pun kecewa dan bingung. Kemana Saya harus pergi. Sebab LCD di kelas sudah tidak berfungsi. Saya kembali ke kelas dan memberi tahu bahwa LCD di akademik sudah habis.
Masa tidak ada cong? coba pinjem remot saja,” kata salah seorang temanku, Hakim, dengan logat khas Madura. Saya kembali lagi ke akademik. Saya tanya kepada karyawan fakultas, Alhamdulilah ternyata remot yang kami maksud ia berikan. Dengan segera Saya menuju ke kelas, dan memberikannya kepada Hakim. Kita berdua berusaha sekuat tenaga, pantang menyerah dan tak mengenal putus asa. Tapi apa daya manusia, Allah berkehendak lain. LCD tetap saja tidak bisa, walaupun kita berusaha mengoperasikannya melalui remot.
 Tak masalah sudah mas,” kata Pak Faqih kepada kita. Beliau bercerita tentang masalah yang serupa dengan kejadian kelas itu. Pada suatu hari, ketika beliau menjadi manajer di salah satu perusahaan. Direktur perusahaan mengundang salah seorang trainer guna memberikan training motivasi bagi para pegawai dan karyawan pada perusahaan itu. Pada saat hari yang ditentukan, trainer itu datang dan bersiap siaga untuk memberikan trainingnya di suatu ruangan. Ia membawa laptop yang berisi materi training. Sedangkan ruangannya sudah terdapat LCD dan proyektor. Tapi apa kuasa manusia, listriknya mati dan secara otomatis ia tidak dapat menampilkan materi yang di laptopnya melalui LCD dan proyektor itu. “Trainernya itu bingung, dan selalu bilang ke saya, bagaimana ini Pak Faqih,” kata pak Faqih sambil menirukan ekspresi orang tersebut.
Sebagai seorang manajer yang sudah dipercaya oleh sang direktur, Pak Faqih merasa bertanggung jawab untuk mensukseskan acara tersebut. Mengingat trainer yang tidak bisa berbuat apa-apa lantaran listriknya mati serta tidak mempunyai inovasi untuk mengisi program tersebut. Maka beliau pun mengajak para peserta yang terdiri dari para pegawai dan karyawan perusahaan untuk membuat acara baru inovasi asli dari beliau. Pak Faqih meminta mereka untuk keluar ke alam bebas dan menyuruhnya turun ke sungai dengan membawa lilin yang sudah berisi api, yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh panitia.
Ketika para peserta menyusuri semak belukar, Pak Faqih bercerita tentang tujuan hidup. Beliau menghipnotis mereka dengan suara pasti tapi santai. “Ketika Anda pulang ke rumah Anda, lalu di rumah Anda penuh dengan orang. Anda pun sulit melewati kerumunan orang itu. Anda bingung harus lewat mana. Namun dengan usaha Anda yang keras itu, Anda bisa masuk dengan ramainya orang di rumah Anda itu. Anda melihat ada orang yang terbentang dan sudah tak bernyawa lagi, terbujur kaku semua badannya. Anda mendekati dan membuka secara perlahan-lahan kain yang menutupi wajahnya itu. Anda buka dengan perlahan-lahan, ternyata yang sudah terbujur kaku dan tak bernyawa itu adalah Anda,” katanya dengan menirukan ekspresi pada waktu training para pegawai dan karyawan di salah satu perusahaaan itu, yang beliau menjadi manajernya.
Teman-teman pun bersimpuh mendengarkan untaian cerita dari Pak Faqih yang enak di dengar itu. Seakan-akan semua yang ada di kelas terbayang seperti melihat langsung kejadian tersebut. Menurutnya, salah satu hal pelajaran yang dapat diambil oleh kita adalah bahwa, setiap pembicara harus siap menghadapi tantangan dan rintangan ketika acara sedang berlangsung, baik listriknya yang mati atau lainnya. Seorang pembicara yang bijak harus memiliki beberapa Planning dalam menyampaikan materi kepada audiens-nya. Ia tidak hanya memiliki satu Planning, tapi memiliki dua sampai tiga Planning. Seorang pembicara harus memiliki inovasi dalam suatu program acar.
Beberapa menit berlalu. Pak Faqih menawarkan kepada mahasiswa untuk membeli buku yang dibawanya. “Saya bawa buku sepuluh ini. Silahkan yang mau beli. Bisa dibayar minggu depan. Atau dicicil sepunyanya dulu,” kata pak Faqih kepada kita. Salah seorang teman pun bertanya tentang harga buku itu. Pak Faqih pun menjawab bahwa buku karyanya yang berjudul, “Kiat Menjadi Da’i Sukses” itu harganya Rp. 40.000, jika membeli langsung ke beliau. “Jika kalian membeli di toko buku, insya Allah Rp. 70.000-an lah,” katanya kepada mahasiswa.   
Teman-teman pun bingung. Tak seorang pun mahasiswa yang bergegas kecuali Handika. Pria berambut seperti jarum itu duduk di sebelah utara, di depan meja dosen itu langsung mengambil buku dari meja pak Faqih. Secara bergiliran, mahasiswa mulai mengambil buku. Tak terasa buku sudah tinggal satu. Saya pun langsung bergegas untuk mengambil buku yang terakhir itu. Saya kembali ke tempat duduk semula, barisan kedua dari depan. Buku yang belum saya baca itu pun langsung dipinjem Baiti, “Tak baca dulu yan Syam,” katanya dengan senyum manis. “Hehe, bukumu mana tadi dah, bukan  Baiti juga punya tadi?,” kataku dengan sok tak tau. “Hehehe, itu bukan punyaku Syam. Aku gak beli kok. Aku pengen fotokopi aja dah. hehehe” katanya dengan senyuman diiringi dengan malu-malu kucing.   Sampeyan ijin aja dulu ke beliau, jangan langsung di fotocopy,” nasehatku pada Baiti. “Ya tak apa-apa palingnya Syam, kan ilmu sih, hehe,” jawabnya kepadaku.
20 menit kemudian, Pak Faqih menyuruh kita untuk membuka halaman 57 dengan pembahasan  tentang, “Memahami dan Mengenal Mesin Kecerdasan Anda.” “Enakan punya buku ya Baiti,” sindirku padanya. “Hehe,” responnya. Sebagai teman yang baik, saya tidak meletakkan buku pada pangkuanku, tapi saya diletakkan di meja, di mana saya dan Baiti dapat membaca bersama. Berbagi di dalam kebersamaan itu lebih indah dari pada untuk pribadi.
Menurut Pak Faqih, bahwa ada empat belahan dalam otak yang memiliki fungsi khuus berkaitan dengan kecerdasan manusia. Di antaranya sensing, thinking, intuiting, feeling dan instinct. Menurutnya Sensing (S) untuk belahan otak kiri bawah. Beberapa ciri khas orang dengan mesin kecerdasan Sensing adalah ulet, cara kerjanya teratur dan biasa bekerja secara efisien, pandai dalam ketelitian kerja, mencari fakta dan mengandalkan pengalaman, orientasi kerja atau materi, perannya player, yielding, kunci suksesnya meningkatkan skala dan waktu.
Yang kedua adalah thinking (T) untuk belahan otak kiri atas, yaitu pandai, cara bekerjanya mandiri, terbiasa efektif, pandai dalam mengejar akurasi, mencari data, mengandalkan analisis, orientasi kerjanya proses dan sistem, peran controller, ekspektasi managing, kunci suksesnya mengefektifkan sistem. Selanjutnya, Intuiting (I) untuk belahan otak kanan atas yaitu kreatif, cara bekerjanya variatif, terbiasa solutif, pandai dalam mencipta produk, mencari pola, mengandalkan intuisi, orientasi kerja ide dan kreativitas, peran initiator, ekspektasi creating, kunci suksesnya mengkapitalisasi aset.
Feeling (F) untuk belahan otak kanan bawah yaitu, empatik, cara bekerjanya bersama, terbiasa persuasif, pandai dalam membangun kerja sama, mencari cerita, mengandalkan hubungan, orientasi kerja orang dan hubungan, peran supporter, ekspektasi leading, kunci suksesnya menempa orang. Sedangkan Instinct (In) untuk bagian otak tengah yaitu, altruis, cara bekerjanya spontan, terbiasa responsif, pandai dalam hal-hal yang lebih taktis, mencari ringkasan, mengandalkan kesigapan, orientasi kerja peran dan pelibatan, ekpektasi contributing, memperlancar hubungan.
Tak hanya itu, Pak Faqih pun membahas pola komunikasi dari tiap-tiap belahan otak itu. Thinking, memiliki cara berkomunikasi dengan bicara konsekuensi fokusi pada pekerjaan logis. Jika Sensing, bicara pengalaman fokus pada fakta pragmatis. Sedangkan Intuiting, bicara kemungkinan fokus pada solusi imaginatif. Yang terakhir adalah Feeling, dengan bicara perasaan fokus pada orang bombastis.
Dengan sangat jelasnya, beliau juga menjelaskan tentang kekuatan dari setiap masing-masing belahan otak itu. Kekuatan otak pada Thinking, adalah sistematis, kuat pada analisis dan logika, mensitematiskan proses, problem solving, management, metode diskusi dan simulasi. Sedangkan kekuatan pada Sensing, adalah kekuatan pada materi dan pendukungnya serta pengalaman, metode penggunaan alat dan demonstrasi. Jika kekuatan pada Intuiting, adalah imajinasinya liar, entrepreneurship, gagasan baru, perubahan, kreativitas, metode sosiodrama dan petualangan. Yang terakhir adalah Feeling, adalah strory telling, menyentuh hati, renungan, berurai air mata, inspirasional, bombastis, leadership dan metode ceramah.
Sesekali dalam pembahasannya, menanyakan kepada kita, termasuk kategori manakah otak kita. Sebagian teman yang lain sudah mulai menebak. Seperti apa karakter otaknya. Tetapi sebagian yang lain masih belum menemukan otak yang tertentu. Beberapa teman sekelas pun tertuju kepada salah seorang teman kelas. Teman-teman mengira bahwa apa yang dijelaskan Pak Faqih itu memilik kesamaan karakter dengan salah satu teman kita di kelas pada waktu itu.
Dosen tinggi dan gagah itu menjelaskan bahwa kebanyakan Presiden di Indonesia memiliki mesin otak Feeling. Jokowi, Susilo Bambang Yudhoyono, Gus Dur, Soeharto dan juga Soekarno. “Soekarno saking terlalu memiliki mesin otak Feeling. Sehingga ia memiliki banyak Istri,” katanya. Ungkapan lucu itu pun disambut gelak-tawa oleh mahasiswa di kelas.
Waktu tak terasa sudah menunjukkan jam 13.30, Pak Faqih meneruskan penjelasannya pada halaman 60 yaitu “Memahami dan Mengenal Gaya Komunikasi Anda.” Menurutnya ada tiga gaya komunikasi manusia ketika menyerap informasi. Dalam dunia pendidikan di era modenisasi ini dikenal dengan istilah modalitas belajar VAK. “Apa itu VAK?,” tanyanya kepada mahasiswa. Sebagian mahasiswa menjawab bahwa VAK adalah singkatan dari Visual, Auditori dan Kinestetik. Seagian mahasiswa yang lain bertanya ke yang lain, di halaman berapa penjelasan tersebut.
Pada pembahasan pertama, Pak Faqih menjelaskan secara gamblang tentang Tipe Visual. Menurutnya, tipe ini adalah dikhususkan kepada mereka yang lebih mudah menyerap informasi dengan penglihatan atau visual. Karakter orang dalam tipe ini cenderung bernapas pendek-pendek lewat dada, berbicara cepat. Mereka suka menyela pembicaraan orang lain, bergerak cepat, makan cepat, penuh energi dan berbicara dengan nada tinggi.
Tak hanya itu, meraka juga berpenampilan rapi, sehingga enak dipandang. Dalam mengambil keputusan, selalu berdasarkan apa yang mereka lihat. Sedangkan pilihan kata orang-orang visual antara lain, melihat, memperhatikan, menonton, menunjukkan, memandang, membayangkan, mewarnai, memvisualisasikan, penglihatan dan sudut pandang. Jika ia ingin mengutaraan sebuah pendapat, senantiasa mengatakan, “lihatlah dari sudut pandang saya.” Ketika tidak memahami pendapat orang lain, ia akan mengatakan, “Ide Anda kabur.” Jika meminta kepada orang lain untuk memperatikan apa yang disampaikan, mereka akan mengatakan, “Bisa Anda bayangkan?.”
Mahasiswa pun diam seribu bahasa, sambil mengangguk-nganggukkan kepala. Pak Faqih pun langsung menjelaskan ke tipe selanjutnya. Yaitu Tipe Auditori. Dalam tipe ini, mereka akan lebih mudah menyerap informasi dengan mendengar atau dengan cara diceritakan atau dijelaskan orang lain. “Orang dalam tipe ini cenderung bernafas lewat diafragma,” ungkapnya. Mereka pun juga lebih senang mendengarkan daripada bernicara, ketika berbicara menggunakan variasi warna suara.
Pak Faqih juga menasehati kita, jika berkomunikasi dengan tipe ini harus berbicara dengan pelan dan teratur, ubah-ubah warna suara kita. Menjelaskan situasi dengan detail dan dapat dilanjtkan dengan dikusi melalui dialog. Sedangkan pilihan kata orang-orang auditori adalah, dengar, mendengarkan, mengatakan, kegaduhan, bunyi, bicara, kesunyian, nada, ritme, kedengarannya akrab, kedengarannya itu iede yang bagus, ada yang ingin saya katakan dan lain-lain. Jika meminta kepada orang lain untuk memperatikan apa yang disampaikan, mereka akan mengatakan, “Dengarkan, saya punya ide bagus?.”
Terakhir adalah Tipe kinestetik. Orang bertipe ini, mereka akan lebih mudah menyerap informasi dan pengetahuan dengan cara melibatkan gerak dan menyentuh perasaan mereka. Ciri-ciri tipe ini adalah cenderung bernapas dalam dan tenang. “Orang ini juga lebih mengutamakan perasaan,” kata pak Faqih. Dalam menganbil keputusan, senantiasa didasari oleh perasaan dan emosi. Jika kita berkomunikasi dengan orang yang tipe ini. Kita harus bisa membuat mereka, “merasakan” apa yang kita katakan.
Sedangkan pilihan kata orang kinestetik adalah merasa, emosi, tenang, frsutasi, tertekan, malu, gugup, kesepian, santai, stress. Selain itu, mereka juga mengatakan, Saya setuju, Anda sangat Emosional; Saya tidak suka di bawah tekanan. Saya lebih suka ketenangan; Bisakah Anda merasakan yang saya rasakan; Di sini dingin. Apakah Anda merasakannya? Jika mengapresiasi pendapat orang lain, mereka berkata, “Ide Anda benar-benar menyentuh perasaan.”
Dengan mengetahui mesin kecerdasan kita dan mengenal komunikasi kita dengan baik hal ini sangat membantu kita dalam menunjang keberhasilan dakwah, sehingga kita bisa menyesuaikan dan menggunakan modal anugrah Allah di atas dengan tepat, sesuai dengan audiens yang kita hadapi,” betulah pesan inspiratif Pak Faqih kepada kita.
Sebelum menutup kuliahnya, beliau menanyakan kepastian kita untuk berkumpul di rumah beliau setiap pagi hari Jum’at. “Sebagian kita kalau jum’at pagi ada kuliah Bapak, lalu bagimana ini?,” kata salah seorang teman, tapi saya lupa siapa yang mengatakan itu. Beliau pun menawarkan kepada kita bagaimana kalau kita berkumpul setelah shalat Jum’at saja. Teman-teman pun menyetujui hal itu. “Apakah Jum’at besok ini bapak (17 April 2015)?,” kata salah seorang temanku. “Saya Jum’at ini ada acara ya, gimana kalau jum’at depannya lagi (24 April 2015)?” katanya dengan penawaran yang sangat bijak. Teman-teman pun menyetujui permintaan dosen yang sangat cerdas itu. Kuliah pun di akhiri dengan membaca Surat al-Ashr dan doa penutup majlis. Sungguh indah kuliah ini.
Teman-teman pun secara bergiiran munuju Pak Faqih. “Ada apa itu,” bisik hatiku. Tak kuasa menahan rasa penasaran, saya pun mendekati juga. Eh ternyata, mereka meminta tanda-tangan beliau dari buku yang telah dibeli teman-teman. Tak hanya itu, beliau juga menulis kata-kata bijak pada halaman pertama buku tersebut. Kini saatnya giliran saya, saya pun memberikan buku yang saya pegang kepadanya. Setelah ditanda-tangani sebagaimana seperti yang lainnya, beliau juga memberikan kata-kata mutira pada bukuku. Subhanallah.

Senin, 13 April 2015

BERLARI DI TENGAH SAMUDRA (Kuliah Inspiratif Bersama Bapak N. Faqih Syarif, Spiritual Motivator Indonesia)



Oleh: Syam




Sumber Foto: Merdeka.Com

“Ting, ting, ting,” bunyi handphone Prof Ali Aziz. Bapak tujuh anak itu pun mengangkatnya yang berada di atas kursi di depannya. “Halo, iya-iya ustadz, lantai dua gedung A, kelas D1.211,” jawabnya pada telpon itu. Tak sampai lima menit, dosen yang sering bersepatu ala militer itu menyuruh saya untuk menjemput Bapak N. Faqih Syarif di tangga. Tanpa membuang waktu, saya pun langsung melangkahkan kaki untuk ke luar ruangan.
Saya mondar-mandir, tanya sana-sini. Dari mahasiswa, karyawan hingga dosen pun saya tanyai. “Maaf mas, saya tidak tau siapa pak Faqih itu” jawab salah satu dari mereka. Sebagian juga mengatakan, “Maaf mas, beliau tidak keliatan ini, kemana ya.” “ Mungkin di kantor dosen mas ya,” terang salah satu karyawan. “Adddduh, dimana beliau ini. Jangan-jangan beliau kesasar,” bisik hatiku.
Tak tau dimana keberadaanya, saya pun bingung. “Mungkin beliau sudah masuk ke kelas kalek ya” kata hati kecilku. Saya beranjak ke kelas. “Assalamualaikum” kataku sambil memasuki ruangan. “Waalaikum salam” kata semua yang ada di ruangan. Ternyata, dugaan saya benar. Pak faqih sudah di kelas. Teman-teman pun menertawakan saya. Sebab pak Faqih yang dicari, malah sudah datang. “Tapi tak apalah, ini takdir Allah untuk menguji keimanan seorang Syam dalam menungu seorang motivator sukses, pak N. Faqih Syarif, hehehe” bisik hatiku yang sambil senyum-senyum sendiri.
Ketika saya sudah memasuki ruangan, saya bingung harus duduk dimana. Saya mencari tas, tidak ketemu. “ada dimana tasku ya, wong tadi ada,” kataku kepada teman sekelasku. Ternyata ada salah seorang temanku yang menunjukkan tasku, dan baiknya, ia mengambilkan tas untukku, “Ini Sam, tasnya.” ‘Terima kasih ya,” Saya pun duduk di baris kedua paling utara dengan mengahadap ke timur.   
Beberapa menit berlalu, Prof Ali menyuruh kita untuk pindah duduk ke barisan pertama. Agar, kita mendengar suara yang jelas dan lebih semangat dari bapak Faqih. Tanpa banyak kata, kita pun pindah ke kursi di depan kita. Begitu juga dengan saya.
Ketika saya mengambil buku dalam tasku, tiba-tiba ada seorang pria yang datang dengan membawa tas hitam. Amir, begutulah saya memanggilnya. Ia masuk dan menuju ke arah paling utara dekat tembok. Tanpa bicara sepatah kata pun, ia membuka tas, yang berisi laptop dan memberikan laptop itu kepada bapak faqih. Di luar dugaan kita, walau diganti laptop, LCD yang berada di atas atap itu tetaa saja tidak berfungsi.
Ketika teman baikku Hakim sedang menekan tombol proyektor yang berada di atas atap dengan kayu yang panjangnya sekita 2 meter, tidak bisa hidup. Maka saya berkata kepadanya, “Mas Hakim, mungkin protektornya rusak ya. Atau saya ambil saja proyektor di akademik.” “Oh iya cong, sampeyan ambil proyektor dan remot,” katanya dengan semangat yang membara.
Langkah-demi langkah, saya keluar ruangan, satu persatu-persatau, saya turunkan kaki melewati anak tangga. “Assalamualaikum” kataku kepada karyawan yang sedang melaksanakan tugasnya di ruang akademik. “Waalaikumsalam,” sontak mereka. Saya menghampiri wanita muda, yang duduk di paling barat, mengahadap ke utara, sambil mengetik tugas administrasi, “Maaf bu, saya mengganggu njenengan.” “Iya tidak apa-apa mas, ada apa ini?” tuturnya dengan senyum. “Saya mau pinjam proyektor untuk ruangan D1.211, sebab proyektor yang ada tidak bisa dioperasikan. Mungkin ada kerusakan,” kataku sambil membungkukkan bahu. “Ya saya ambillkan dulu mas,” ungkap wanita yang kira-kira berumur 40 tahunan itu.
Saya terkejut, bercampur keringat, ketika karyawan yang memakai warna hijau itu mengatakan, “Sampeyan bawa KTM mas.” “Tidak bu, saya lupa,” kataku dengan wajah memerah. “Kalau tidak bawa KTM, ya tidak boleh pinjam mas,” katanya dengan tegas. “Oh gitu ya bu, terima kasih bu,” ungkapku sambil mengucapkan salam dan keluar ruangan. Tanpa kusangka, ada suara yang memanggilku, “mas, mas, mas.” “Apa benar ada suara yang memanggil saya.” Lalu saya kembali ke ruangan yang berada di sebelah selatan tangga itu. Ternyata benar, ibu yang tidak mengijinkan saya untuk pinjam LCD itu. “Apa ibu yang memanggil saya tadi?,” Kataku dengan senyuman. “Ia mas, sampeyan bawa saja sudah. Emang mata kuliah siapa sekarang,” katanya dengan senyuman. “Sekarang mata kuliahnya Prof Ali,” jawabku. “oh gitu, ya udah sampeyan bawa dulu, kalau sudah segera dikembalikan.” Kata ibu tadi itu. “Terima kasih ibu, Assalamualaikum,” kataku, lalu ke luar ruangan yang ber-AC itu. “Waalaikumsalam,” kata sebagian yang ada di ruangan itu.
Sambil membawa tas, yang berisi LCD dan kabel. Tiba-tiba ada suara cowok yang menggelegar yang memanggil saya, “Sam.” Saya kaget dan mencari sumber suara itu, dari arah mana ia muncul. Eh ternyata suara itu keluar dari arah utara. Ternyata suara teman akrabku, Rahman, mahasiswa semester 6 prodi Manajemen Dakwah.  
Saya masuk kelas, dan memberikannya kepada Hakim, teman sekelasku yang suaranya keras itu. “Ini mas,” kataku. Saya pun langsung membantu mengelurkan LCD dan kabel dari tas yang berwarna hitam itu. Tanpa membuang waktu, saya ambil kabel dan saya masukkan colokannya ke tembok sebelah selatan dekat pintu timur. Saya ambil kursi di depanku dan saya hadapkan ke sebelah timur. Saya letakkan LCD di atas kursi tersebut.  Alhamdulillah, ternyata LCD sekarang sudah menyala. Dengan bergegas, pak Faqih menerangkan kepada kita tentang HIT. Penyampainnya lugas, mengena
 “Olga Syahputra, saya bingung, kenapa kok dia milih lagu hancur hatiku, hancur hatiku. Semakin ditayangkan ulang-ulang, persis ditahun 2013, Olga pas sakit itu. Hati-hati dengan omongan anda,” katanya dengan memegang spidol berwara biru.
 “Ada seorang profesor, maunya ngasik motivasi sama mahasiswanya,” jeda sebentar. Kemudian baliau lanjutkan, “Sambil membagikan soal ujian, dia ngomong sama mahasiswanya. Kalian semua harus serius, positif kan ya? Kalian semua harus serius, sambil dibagikan soalnya. Positif apa ndak? Tapi kalimat setelah itu yang membikin trauma, selama lima tahun terakhir ini. Tidak satu pun mahasiswa yang mengikuti mata kuliah saya, Luuuulus. Diulang-ulang. Apa yang terjadi? Lima tahun gak ada yang lulus. Apa lagi saya? Eh gak taunya setelah sepuluh menit. Mahasiswa yang datang terlambat. Saya tidak menyuruh untuk datang terlambat loh ya? Saya baca tadi rata-ratasujud sama syukur karena Prof Ali. Saya baca di tulisan kamu itu. Saya baca, dikira tidak dibaca. Saya terima email kamu itu menjelang setelah Shubuh ya? Sam ya. Ya ngirim. Saya sempat buka tadi,” ungkapnya sambil menggelengkan kepala.
“Dia datang setelah profesor itu ngomong. Sorry Prof, saya datang terlambat, ia silahkan. Yang lain ngerjakan kenak. Eh malah dia nyanyi-nyanyi. De, de, deeeeeee, deeeeee. “Hahahaha” kata mahasiswa. Semua tidak lulus, justru yang lulus siapa? Yang terlambat. Bukan berarti saya menyuruh terlambat. Karena ia ini tidak terkena oleh pikiran yang negatif.”
Menit pun berlalu, agar kelas tidak keliatan bosan. Beliau meminta mahasiswa, “Haloooo. Kalau saya bilang halo jawabannya hay ya? Kalau saya bilang hay, maka jawabannya adalah halo.”
“Haloooo?” Kata pak faqih kepada mahasiswa.
“Hay,” jawab mahasiswa dengan menggaung.
“Halo-halo,” katanya kedua kalinya.
“Hay-hay,” jawab mahasiswa dengan kompak.
Tapi apa yang terjadi, ketika pak Faqih mengulang-ulang kata-kata itu, bukan malah membuat mahasiswa semakin rapi menjawab, tapi malah semakin buyar. hahahaa
“Hay halo hay hay,” kata pak Faqih.
“Halo-(buyar),” jawab mahasiwa dengan buyar.
 “Selama empat tahun terakhir ini. Saya dikelilingi oleh teman . Untuk masuk ke sekolah-sekolah negeri swasta di berbagai kota dan kabupten. Diminta untuk memberikan motivasi ujian nasional. Mereka-mereka yang tidak lulus ujian nasional, bukan-bukan mereka-mereka yang tidak bisa, tapi anak-anak ketika mengerjakan soal dia sudah nervous duluan. Maka saran saya kepada mereka, kerjakanlah soal itu, kerjakan yang paling mudah dulu. Anda baca. Kalau sulit, ditinggal dulu, kerjakan yang mudah. Setelah itu balik lagi. Anda bisa bayangkan mengerjakan matematika, ngerjakan soal yang sulit itu. Matek aku rek. Waktunya habis, dimatek-metak tadi itu kan?. Soalnya lima puluh, dua puluh kali matek. Makanya hati-hati dengan pikiran  negatif,” jelasnya kepada mahasiwa dengan senyuman yang khas.
Beliau pun duduk sebentar, kemudian berdiri, “Ketika Allah menciptakan Nabi Adam, dimuliakan apa ndak?,” tanyanya kepada mahasiswa. “Dimuliakan pak,” sontak mahasiswa. “Sudah dimuliakan dimanja lagi. Dimasukkan Surga. Apa buktinya mulia? Apa buktinya ayo? Iyya. Malaikat disuruh apa?,” tambahnya.  
“Malaikat dan jin disiruh sujud,” jawab baiti, teman sekelasku yang sangat aktif. “Pertanyaan saya, setan mau apa ndak?, tanyanya lagi. “Tidak,” jawab mahasiswa dengan bersama-sama. “Kenapa ndak mau? Ia karena merasa dirinya lebih tinggi. Karena kesombongannya lah yang kemudian setan dikeluarkan dari surga. Sejak saat itulah setan itu dendam, dengki, dongkol lagi. Ingat tiga sifat itu. 3 D apa?,” jelasnya sambil menulis di papan.
“Seten itu memiliki sifat dendam, dengki, dongkol. Maka kalau ada manusia memiliki sifat dendam, dengki, dongkol, maka itu sifatnya setan. Pertanyaan saya. Ketika itu setan dendam, dengki, dongkol. Bahasanya jowone mangkel. Dan dia berjanji akan menggoda manusia. Dan dia berdoa sama Tuhan, sama Allah. Doanya dikabulkan apa tidak? Apa doanya? Ia doanya minta dikasik umur panjang. Apa artinya, setan saja berdoa dikabulkan oleh Allah. Maka jika ada manusia males berdoa, ngala-ngalai setan, ia kan? Loh setan aja berdoa dikabulkan,” jelasnya. Pernyataan beliau yang penuh makna itu pun membuat kita semangat untuk berdoa. Bahkan sebagian mahasiswa di kelas menggeleng-gelengkan kepala.
“Sejak saat itu setan menggoda manusia, dan setan itu tahu bangkan letak kekuatan manusia itu terletak di antara dua telinga. Apa?,” tanya pak Faqih. “Pikiran,” kata salah satu temanku, tapi saya lupa suara siapa itu.  
 “Ketika kita sering melakukan sesuatu, pasti terjadi pertarungan antara pikiran positif dan pikiran negatif,” ujarnya di duduk di kursi sambil menyentuh dagunya. “Anda hadir di saja loh pertarungan. Anda mau berangkat kuliah dengan kondisi hujan yang kayak gini. Malah ngomong, mudah-mudahan dosene gak teko,” sambil ketawa. “Hahaha,” tawa mahasiswa. “Sudah tetap di sini saja. Sudah duduk di majelis ilmu saja, setan gak terima, lalu diciptakan hawa ngantuk,” katanya dengan menunjuk-nunjuk tangannya sebagai bagian dari bahasa tubuhnya. “Halo,” sapa Pak faqih pada mahasiswa. “Hay,” jawab mahasiswa. “Ketika teman-temannya, ada yang ngantuk,” ungkapnya, sambil menirukan ekspresi orang ngantuk.
“ Hati-hati bisikan setan itu, dan bisikan setan itu ada dua. Ada dari golongan jin dan dari golongan manusia,” ungkapnya sambilng menghitung dengan dua jari. 
  “Bagaimana cara mengetahui itu bisikan setan atau bisikan malaikat?, ternyata Rasulullah sudah mengejarai. Saya tak terjemah bebas saja. Jika ada dalam pikiran kalian sesuatu yang mendorong-dorong untuk melakukan keburukan dan menunda kebaikan, maka itu adalah bisikan setan. Ingat mendorong-dorong keburukan dan menunda-nunda kabaikan berarati bisikan setan,” terangnya dengan senyum manis. “Ada temannya yang lagi semangat datang, tepat waktu, kemudian dia rajin ke perpustakaan, kamudian ada yang bilang, rajine rekkkk,” tirunya dengan ketawa. “ini namanya bisikan setan, dan saya tidak mengatakan ini adalah setan loh ya?,” menoleh ke kanan.

“Ketika ada temannya seriusn nyatat. Ketika ada seminar dan training nyatat. Kuliah ae nyatat,” ungkap dengan menirukan ekspresi orang yang syirikan sama orang. Hehehehe.
“Setan seringkali senang kepada orang yang menggunakan kata “TAPI. Setelah kata tapi, pasti ada alasanan atau dalil,” ungkapanya dengan menulis.
   “Yang kedua adalah, “USIA. Bagi yang muda apa alasannya? Saya masih muda pak. Yang tua alasannya.” “Saya sudah tua kok,” celetuk mahasiswa. 
“Kalau dalil saya itu dipakek, namanya tidak ada bocah yang bernama Gevira Fatimah. Umurnya enam Tahun,” katanya dengan menunjukkan angka enam melalui tangannya. “Dia medapatkan rekor muri sebagai penulis termuda di Indonesia. 6 tahun, bayangkan. Putrinya KH Abdulah Gymnastyar,” terangnya. “Ya bisa aja pak, wong anak’e aa’ Gym, repot juga kalau orang bilang gitu, Jangan melihat anaknya siapa. Iniloh, melihat si kecil ini.” “Kalau dalil saya ini dipakek, maka tidak akan ada orang yang hafal Qur’an pada umur 9 tahun. Dia mendapatkan gelar doktor honouris causa termuda di dunia. Pernah dengar namanya Sayyid Husain Taba’tabai dari Iran. Pakai alasan usiaa?” “Tidak,” jawab mahasiswa.
“Kalau dalil saya dipakai. Maka saya tidak akan mempunyai seroang teman, yang kiai dari Magetan. Kawan saya di S3, doktoral. Kalau laptopnya rusak, dia benggung. Usinya udah 63 tahun. Kakek-kakek, kiai. Pakai alasan usia?,” jelasnya dengan wajah serius tapi santai. Eh serius tapi santai. Apa bedanya ya. hehehehe
“Kalau saya di pakek, maka tidak akan ada KFC. Kakek tua itu. Dia mempunyai hobby masak. Dan masakanya ditawari. 1008,” jelasnya kepada mahasiswa. Mahasiswa di kelas pun bertanya satu sama lain, seperti siapa kakek tua itu, yang tak pernah mengenal putus asa itu. Ada yang mengetahui kakek tua itu, dan ada pula yang belum bisa menjawab. Mungkin karena gak pernah makan di KFC kalek ya. Iiiiih kasihan delloh.
“Ada lima hal, yang menghambat kita untuk meraih sukses. Satu pikiran negatif, dua pakai alasan usia. Tiga ke se ha tan.  Kalau dalil saya dipakek, maka Indonesia tidak akan pernah mempunyai presiden Gusdur,” ujarnya dengan duduk dan sambil melirik ke Prof Ali. “Kalau dalil saya dipakek, maka Indonesia tidak akan pernah mempunyai orang terkenal seperti pepeng. Dia sekrang mengalami sakit, sel-sel saraf di tulang belangkangnya. Dia tidak apa-apa kecuali berbaring. Apa kata pepeng, saya merasakan cinta kasih Allah, ketika seya merasakan sakit seperti ini. Tidak boleh berhenti berkarya,” tambahnya. Mahasiswa yang ada di kelas diam sejuta kata. Hanya mengangguk-nganggukkan kepala semata. Tapi tidak tau, kita paham atau malah mengantuk, berlayar ke pulau kapuk. hehehehe
“Yang ke empat adalah pakai alasan latar belakang pendidikan. Saya gak mungkin sukses pak. Saya kan hanya s3, SD, SMP, SMA. Kalau pakai alasan usia, saya tidak akan pernah mempunyai guru, motivator terbaik Indoensia. Yang namanya ANDRI WONGSO. Gelarnya itu aneh. ANDRI WONGSO, SD.TT.TBS. Gelar ini tidak pernah dikeluarkan oleh perguruan tinggi negeri maupun swasta di dunia. Gelar ini saya dapatkan dari univesiats kehidupan.  SD.TT.TBS, Sekolah Dasar Tidak Taman, Ternata Bisa Sukses,” sambil memandang wajah mahasiswa satu persatu.
“Yang kelima. Nasib. Ya nasib-nasib. Percaya sama sulul, zodiak. Dan lain sebaginya itu,” ungkapnya dengan sedikit santai. Setelah selesai menjelaskan penjara kemalasan ini, beliau berpesan, “Kalau anda bisa menghancurkan 5 gembok ini. Anda menang. Anda di sini saja, kalau pikiran tidak tenang, maka pelajaran tidak akan masuk.”
Diujung perkuliahan bersama Pak Faqih, beliau menawarkan kepada kita, “Apa masih ada pertanyaan?,” tanyanya dengan suara yang mendebarkan. “Ada pak, saya mau tanya,” kata salah seorangtemanku. “Silahkan mas,” ungkap pak faqih kepada nya. “Saya mau tanya pak, saya ini kan alumni Sekolah Perkapalan. Lalu saya kuliah di UIN SA ini. Saya merasa bahwa, saya hanya memiliki ilmu keislaman yang sedikit. Saya selalu berfikir begitu. Sedangkan teman-teman saya banyak yang alumni pesantren. Saya minder pak. Bagaimana ini pak“ Kata hakim.
“Kalau anda kuliah di UIN, berarti anda sudah meilki IQ yang noraml. Kalau IQ 90-100, itu namanya suah normal. Anda masuk kuliah ini, berarti anda sudah normal. Ingat, kecerdasan itu tidak hanya kecerdasan intelektual. Berarti anda sudah berpikir negatif, jangan berpikir negatif jika ingin menjadi orang yang sukses. Berpikir negatif merupkan penjara mental yang harus kamu hindari. Tak perlu minder lah. Hidup kan masih belajar.  Harus banyak belajar tentang kehidupan ini,” jelasnya kepada kita.
Sekiat 5 menit kemudia, “Mohon maaf pak, saya mau tanya. Saya memiliki buku karya bapak, mengapa kok covernya itu terbalik apa. Di satu sisi benar, di satu sisi kok kebalik, apa makna filosofisnya itu pak,“ tanyaku kepada alumni Fakultas Dakwah itu. “Iya saya jawab,” katanya sambil menatap mata saya dengan penuh kemesraan. “Itu hanya kreativitas saja. Itu kan dua buku tapi dijadikan satu buku. Beli satu buku, dapet dua buku. Kamudian saya satukan. Namun rupanya penerbit tidak memahami apa yang saya maksudkan,” tambahnya dengan wajah ceria.
“Ini loh buku itu yang dicetak ulang, oleh penerbit Rosdakarya semearang, ini bagus sekarang cetakannya sam,” katanya dengan menunjukkan bukunya kepada kita semua. Kita hanya diam seribu bahasa yang diiringi dengan mengangngukan kepala saja, sebagai tanda kekaguman yang mendalam.
Tepat jam 13.25 WIB, Pak Faqih pamit kepada kita meninggalkan kelas, untuk beranjak ke Bromo, Probolinggo City (kotaku yang sangat indah, dimana saya bersala) untuk memberikan trainer disana. Sebelum keluar ia, berpesan kepada kita, “setiap Jum’at pagi ada, teman-teman bisa silaturrahim ke ruamah saya, untuk, nanti kuliah di sana dah. Yang penting kalian selalu semangat saja.”
Salam Sejuta Kata